6 Bulan Pandemi, Mengapa Orang tak Lagi Cek Angka Kematian?

Posted on
Loading...

Warning: mysqli_query(): (HY000/3): Error writing file '/tmp/MY8Z6emq' (Errcode: 28 - No space left on device) in /srv/users/serverpilot/apps/wanitatrendi/public/wp-includes/wp-db.php on line 2007

6 Bulan Pandemi, Mengapa Orang tak Lagi Cek Angka Kematian?

Respons publik terhadap angka kematian Covid-19 harian tidak lagi sama saat ini.

Loading...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Di awal pandemi Covid-19, masyarakat cenderung mencari tahu jumlah kematian akibat virus corona setiap harinya. Namun, setelah pandemi berlangsung lebih dari setengah tahun, masyarakat mulai menghindari pemeriksaan data secara berkala.

“Memeriksa angka kematian dulu semacam ritual di penghujung hari, tapi akhir-akhir ini saya tidak memeriksanya lagi setiap hari. Mungkin hanya setiap 10 hari atau bahkan setiap 14 hari,” kata Michael Mazius PhD, seorang psikolog perilaku yang berbasis di Wisconsin, Amerika Serikat, seperti dikutip Antara. Hari ini, Jumat (11/9).

Mazius sangat percaya pada manfaat kesehatan mental dari mengakhiri hari dengan ritual positif daripada ritual yang suram. Itu juga menjelaskan beberapa alasan yang membuatnya berhenti memeriksa jumlah kematian Covid-19 di malam hari. Namun, ini tidak menjelaskan mengapa dia semakin jarang memeriksanya.

Apa penyebabnya? Jawabannya mungkin bergantung pada fakta bahwa pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir setengah tahun hingga sekarang. Masyarakat sudah terbiasa dengan kematian massal sampai pada titik pembiasaan bahkan desensitisasi (mengurangi, menghambat, atau menghilangkan respon kecemasan), atau dengan kata lain menjadi kurang sensitif.

Masyarakat telah beradaptasi dengan fakta kematian massal, untuk bertahan hidup. Mazius menjelaskan bahwa otak manusia secara alami beradaptasi dengan kondisi baru ketika menjadi kronis. Manusia sudah punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan suatu pandemi, bahkan dengan hal-hal yang menakutkan.

"Jadi sebagai fungsi untuk bergerak maju, kita mungkin menjadi kurang sensitif terhadap peningkatan jumlah kematian." kata Mazius.

Diana Concannon PsyD, seorang psikolog berlisensi dan dekan California School of Forensic Studies mengatakan fenomena kurang peka terhadap trauma yang sedang berlangsung, seperti korban jiwa, didokumentasikan dengan baik dalam psikologi bencana. Menurut Concannon, ancaman musuh di masa perang, perubahan iklim dan berbagai konsekuensinya, atau virus yang tak henti-hentinya membuat masyarakat terbiasa dengan dampaknya.

"Ini adalah mekanisme bertahan hidup, cara otak kita beradaptasi dengan serangan gencar, betapapun mengerikannya, itu konstan dan gigih. Ini memungkinkan kita untuk terus berfungsi di tengah kesulitan," kata Concannon.

Alicia Walf PhD, ahli saraf dan dosen senior di Departemen Ilmu Kognitif di Rensselaer Polytechnic University di Troy, New York, menekankan bahwa desensitisasi di tengah trauma yang sedang berlangsung adalah alami dan adaptif. Walf mengatakan itu membantu orang secara emosional mengatur diri mereka sendiri dalam situasi traumatis kronis.

"Kami tidak dapat mempromosikan stres dan respons emosional yang sama seperti yang kami lakukan pada awal pandemi," kata Walf.

Selain itu, otak manusia tidak menghitung tragedi massal sebanyak tragedi dalam skala yang lebih kecil.

"Kami merasa empati lebih mudah untuk satu orang daripada untuk sekelompok besar orang," kata Concannon.

Menurut Concannon, penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa manusia menjadi tidak sensitif karena jumlah individu yang terpengaruh oleh peristiwa tertentu meningkat (dan) tidak memproses jumlah korban yang besar seperti halnya menanggapi peristiwa yang lebih kecil.

sumber

Loading...