Intoleransi Laktosa: Penyebab, Gejala, & Pengobatan

Posted on
Loading...

Intoleransi Laktosa: Penyebab, Gejala, & Pengobatan

DokterSehat.Com– Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna laktosa. Laktosa adalah zat gula alami yang ditemukan di susu dan semua produk olahan sapi. Hal ini disebabkan karena pemendekan laktase di dalam tubuh, enzim yang diproduksi di usus kecil—yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa. Meskipun intoleransi laktosa tidak berbahaya, gejala yang dirasakan dapat mengganggu pasien.

Loading...

Jenis dan Penyebab intoleransi laktosa

Ada empat jenis intoleransi laktosa, dan semuanya memiliki penyebab berbeda. Berikut beberapa jenis dan penyebab intoleransi laktosa:

1. Intoleransi Laktosa Primer

Intoleransi laktosa ini adalah adalah bentuk yang paling umum. Tubuh seseorang biasanya berhenti membuat laktase sekitar usia 5 tahun (Usia 2 tahun untuk Afrika-Amerika). Ketika kadar laktase menurun, susu menjadi lebih sulit dicerna.

Penderita intoleransi laktosa primer menghasilkan laktase lebih sedikit, yang membuat susu sulit dicerna saat dewasa. Ini disebabkan oleh gen dan umumnya di antara orang-orang dari Afrika, Asia, Hispanik, Mediterania, dan Eropa selatan. Namun, itu kurang umum pada keturunan Eropa utara atau barat.

2. Intoleransi Laktosa Sekunder

Jenis ini terjadi karena cedera, penyakit, atau kemungkinan pembedahan. Semua kondisi ini dapat memengaruhi usus kecil dan menyebabkan tubuh menghasilkan lebih sedikit laktase. Penyakit usus yang paling umum terkait dengan laktase rendah adalah penyakit Celiac dan penyakit Crohn.

3. Intoleransi Laktosa pada Anak

Intoleransi laktosa adalah kondisi yang dapat berkembang pada bayi lahir prematur. Intoleransi laktosa biasanya hilang dengan sendirinya, hanya berlangsung singkat setelah lahir.

4. Intoleransi Laktosa Kongenital

Intoleransi laktosa jenis ini sangat jarang terjadi dan terjadi ketika tidak ada laktase (jumlah laktase sangat sedikit) yang dihasilkan oleh usus halus sejak lahir. Kondisi ini adalah kelainan genetik, dan kedua orang tua mewariskan gen pada anaknya.

Faktor Risiko Intoleransi Laktosa

Beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap intoleransi laktosa adalah:

1. Bertambahnya Usia

Intoleransi laktosa biasanya muncul pada usia dewasa. Tetapi kondisi ini jarang terjadi pada bayi dan anak kecil.

2. Etnis

Intoleransi laktosa paling sering terjadi pada orang-orang keturunan Afrika, Asia, Hispanik dan Amerika Indian.

3. Lahir Prematur

Bayi yang lahir prematur mengalami penurunan kadar laktase karena usus kecil tidak mengembangkan sel penghasil laktase hingga akhir trimester ketiga.

4. Penyakit di Usus Kecil

Masalah pada usus kecil dapat menyebabkan intoleransi laktosa, termasuk pertumbuhan bakteri yang berlebihan, penyakit celiak, dan penyakit Crohn.

5. Perawatan Kanker Tertentu

Jika pernah menjalani terapi radiasi untuk kanker di perut atau mengalami komplikasi usus akibat kemoterapi, risiko intoleransi laktosa meningkat.

Gejala Intoleransi Laktosa

Tingkat intoleransi laktosa masing-masing orang berbeda tergantung banyaknya jumlah enzim laktase yang dapat diproduksi oleh tubuh. Oleh karena itu, ada beberapa orang yang masih bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan sedikit laktosa, tetapi ada juga beberapa orang yang harus menghindarinya sama sekali.

Ciri-ciri intoleransi laktosa yang paling utama adalah:

  • Mual dan muntah
  • Keram dan nyeri perut
  • Perut penuh dengan gas
  • Perut kembung
  • Diare

Gejala intoleransi laktosa biasanya berlangsung 30 menit sampai 2 jam setelah minum produk susu atau olahan susu sapi. Keparahan gejala bervariasi, tergantung jumlah laktosa yang diminum atau dimakan seseorang dan seberapa tingkat toleransi laktosa pada tubuhnya.

Beberapa orang sensitif terhadap hanya sedikit makanan yang mengandung laktosa, sedangkan orang lain ada yang mampu makan makanan mengandung laktosa yang banyak sebelum gejala tampak.

Diagnosis Intoleransi Laktosa

Orang yang memiliki gejala intoleransi laktosa disarankan untuk menyimpan buku harian makanan, daftar makanan yang dikonsumsi, gejala, dan ketika mereka muncul, sebelum berkonsultasi dengan dokter. Ini dapat membantu dengan diagnosis.

Dokter mungkin menyarankan pasien untuk mencoba diet bebas laktosa selama 2 minggu, untuk melihat apakah gejalanya membaik. Jika mereka melakukannya, individu tersebut mungkin memiliki intoleransi laktosa.

Dokter akan mendisgnosis dengan memerhatikan ciri intoleransi laktosa dan respons ketika mengurangi jumlah makanan yang mengandung susu. Dokter dapat memastikan diagnosis intoleransi laktosa dengan melakukan salah satu atau lebih dari tes berikut ini:

1. Tes Napas Hidrogen

Penderita intoleransi laktosa berpuasa semalaman dan kemudian mengonsumsi larutan laktosa keesokan paginya. Konsentrasi hidrogen dalam udara yang diembuskan diukur. Tingkat nitrogen yang tinggi dapat menunjukkan intoleransi laktosa.

2. Tes Toleransi Laktosa

Penderita mengonsumsi larutan laktosa, dan kemudian sampel darah diambil untuk mengukur kadar glukosa. Jika kadar glukosa darah tetap sama, ini menunjukkan glukosa belum memasuki darah. Sebabnya karena laktosa belum berhasil dipecah menjadi glukosa dan galaktosa. Ketika tes toleransi susu, orang tersebut minum susu alih-alih larutan laktosa.

3. Sampel Tinja

Tes toleransi laktosa dan tes napas hidrogen tidak cocok pada bayi, oleh karenanya tes tinja dapat dilakukan. Tingginya kadar asetat dan asam lemak lain dalam tinja dapat menandakan intoleransi laktosa.

4. Penyakit atau Kondisi yang Mendasari

Jika gejala intoleransi laktosa bisa disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya, seperti penyakit celiak, sehingga biopsi usus kecil dapat dilakukan. Pengambilan sampel jaringan dari lapisan usus kecil dapat diekstraksi untuk tes dalam prosedur bedah.

Komplikasi Intoleransi Laktosa

Susu dan produk susu lainnya mengandung kalsium, protein dan vitamin, seperti A, B12 dan D. Laktosa juga membantu tubuh menyerap sejumlah mineral lain, seperti magnesium dan zinc.

Vitamin dan mineral tersebut penting untuk perkembangan tulang yang kuat dan sehat. Jika intoleran terhadap laktosa, sulit bagi Anda untuk mendapatkan vitamin dan mineral penting dalam jumlah yang tepat.

Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak sehat dan berisiko lebih tinggi terkena kondisi berikut:

  • Osteopenia: Di mana tubuh memiliki kepadatan mineral tulang yang sangat rendah. Jika tidak diobati, dapat berkembang menjadi osteoporosis.
  • Osteoporosis: Kondisi ini membuat tulang menjadi kurus dan lemah, dan risiko mengalami patah tulang.
  • Malnutrisi: Ketika makanan yang Anda makan tidak memberi nutrisi penting untuk tubuh yang berfungsi untuk kesehatan. Kondisi ini membuat penyembuhan luka pada tubuh membutuhkan waktu lebih lama dan mungkin terasa lelah atau tertekan.

Jika Anda khawatir berisiko mengalami komplikasi akibat tidak toleransi laktosa, sebaiknya konsultasi dengan ahli gizi, untuk mendapatkan saran tentang diet dan apakah diperlukan suplemen makanan.

Pengobatan Intoleransi Laktosa secara Alami

Jika tidak ingin berhenti minum susu atau produk berbahan susu, berikut beberapa cara mengatasi intoleransi laktosa:

1. Suplemen Enzim

Suplemen ini dapat membantu mencerna laktosa. Suplemen enzim berupa tablet yang ditelan atau diteteskan pada makanan dan minuman.

Namun, respons suplemen enzim berbeda dari orang ke orang. Tetapi, suplemen enzim laktase mungkin sangat efektif untuk beberapa orang.

2. Paparan Laktosa

Jika Anda tidak toleran laktosa, menambahkan laktosa secara teratur dalam makanan Anda dapat membantu tubuh beradaptasi.

3. Probiotik dan Prebiotik

Cara mengatasi intoleransi laktosa berikutnya mengonsumsi probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan. Prebiotik merupakan jenis serat yang berfungsi sebagai makanan bagi bakteri menguntungkan yang sudah dimiliki di usus, sehingga dapat berkembang.

Makanan Alternatif Pengganti Susu

Produk susu adalah sumber kalsium, protein, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D. Menghindari susu karena intoleran laktosa dapat menyebabkan kekurangan gizi, kecuali jika diganti dengan makanan yang kandungan gizi serupa. Berikut adalah makanan sumber alternatif pengganti susu:

1. Kalsium

Rumput laut, kacang-kacangan dan biji-bijian, jeruk, quinoa, bayam, collard greens, okra, brokoli, daun dandelion, kangkung, dan produk yang diperkaya seperti jus jeruk dan susu nabati.

3. Vitamin A

Vitamin yang satu ini bisa Anda dapatkan dari wortel, brokoli, ubi jalar, minyak ikan cod, hati, bayam, kacang polong, telur, aprikot, labu, melon, pepaya, dan mangga.

4. Vitamin D

Kadar vitamin D dapat ditingkatkan dengan berjemur di bawah sinar matahari, mengonsumsi ikan berlemak, telur, minyak hati ikan, dan susu nabati yang diperkaya.

5. Susu Bebas Laktosa

Orang yang memiliki gejala intoleransi laktosa berat harus memeriksa label produk makanan untuk memastikan bahwa kadar laktosa nol. Sebagai penggantinya, Anda bisa mengonsumsi susu berbasis sayuran yang mengandung lebih sedikit protein daripada susu sapi.

Menurut Nutrition Australia, kebanyakan penderita intoleransi laktosa tidak harus menghindari semua produk susu. Bahkan orang yang memiliki kadar laktase rendah biasanya dapat mentolerir hingga 12 gram laktosa sehari atau satu cangkir susu.

 

 

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. What Causes Lactose Intolerance?. https://www.webmd.com/digestive-disorders/causes-lactose-intolerance#1. (Diakses 3 Desember 2019)
  2. Anonim. 2018. Lactose intolerance. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lactose-intolerance/symptoms-causes/syc-20374232. (Diakses 3 Desember 2019)
  3. Brazier, Yvette. 2018. Lactose intolerance: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/180120.php. (Diakses 3 Desember 2019)
  4. Anonim. 2019. Lactose intolerance. https://www.nhs.uk/conditions/lactose-intolerance/. (Diakses 3 Desember 2019)
  5. West, Helen. 2017. Lactose Intolerance 101 — Causes, Symptoms and Treatment. https://www.healthline.com/nutrition/lactose-intolerance-101#section8. (Diakses 3 Desember 2019)

sumber

Loading...