Studi Temukan Hubungan Kesehatan Usus dengan Kualitas Tidur

Posted on
Loading...

Studi Temukan Hubungan Kesehatan Usus dengan Kualitas Tidur

Penelitian telah menemukan bakteri usus juga dapat memengaruhi pola tidur normal.

Loading...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kesehatan usus erat kaitannya dengan fungsi otak. Penelitian baru dari Universitas Tsukuba di Jepang menunjukkan bakteri usus juga dapat memengaruhi pola tidur normal.

Bakteri usus membantu menciptakan pembawa pesan kimiawi penting di otak, seperti serotonin dan dopamin. Penemuan ini bisa memberikan harapan baru bagi orang-orang yang sulit tidur atau mengalami masalah kesehatan terkait tidur, seperti insomnia, kelelahan kronis, dan mental berkabut.

"Kami menemukan bahwa penipisan mikroba menghilangkan serotonin di usus, dan kami tahu bahwa kadar serotonin di otak dapat mempengaruhi siklus tidur," kata penulis utama studi tersebut, Profesor Masashi Yanagisawa. Berita Medis Hari Ini, Minggu (3/1).

“Jadi, mengubah mikroba yang ada di usus dengan mengubah pola makan berpotensi membantu mereka yang sulit tidur,” lanjut Yanagisawa.

Penelitian baru ini dibangun di atas penelitian sebelumnya yang solid. Studi menetapkan bahwa elemen kognisi dan perkembangan otak memiliki hubungan yang kuat dengan kesehatan mikroba usus dan metabolisme.

Isyarat internal dan eksternal, seperti ritme sirkadian dan makan, secara signifikan memengaruhi tidur. Ritme sirkadian adalah proses atau fungsi biologis penting yang mengikuti siklus 24 jam berdasarkan jam internal tubuh.

Salah satu ritme sirkadian terpenting adalah siklus tidur dan bangun. Faktor yang mengubah atau mengganggu siklus tidur dan bangun dapat menyebabkan gangguan tidur.

Metabolisme usus erat kaitannya dengan fungsi otak melalui sistem peredaran darah dan saraf vagus. Kondisi ini membentuk jaringan yang disebut poros otak dan usus, atau sumbu mikrobiota-usus-otak.

Penelitian menunjukkan bahwa mikrobioma usus, yang merupakan komunitas bakteri, virus, dan jamur yang hidup di usus, memengaruhi elemen fungsi kognitif, perkembangan otak, pembentukan memori, ritme sirkadian, dan kesehatan mental. Karenanya, mengubah pola makan seseorang berpotensi meningkatkan kualitas tidur seseorang atau mengurangi masalah tidur.

Jika kasusnya terbukti, ini akan menjadi alternatif alami yang cukup sederhana untuk pil tidur. Tetapi itu juga dapat memiliki berbagai efek samping negatif, termasuk kantuk di siang hari dan masalah pencernaan.

Keterbatasan penelitian ini termasuk fakta bahwa peneliti tidak dapat mengabaikan efek langsung antibiotik pada fungsi otak. Para peneliti menyarankan bahwa salah satu cara untuk menyiasatinya dalam penelitian masa depan adalah dengan menggunakan tikus bebas kuman.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa prebiotik, yang merupakan nutrisi yang mendukung mikrobiota usus yang sehat, membantu meningkatkan kualitas tidur manusia. Suplementasi dengan prebiotik juga dapat mengurangi gangguan tidur terkait stres pada tikus. Penelitian selanjutnya perlu menguji apakah temuan ini berlaku untuk subjek manusia.

sumber

Loading...